Langsung ke konten utama

Bahasa Jurnalistik


BAHASA JURNALISTIK
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Dasar-Dasar Jurnalistik
Dosen Pengampu: Nanang Qosim, S. Pd., M. Pd.


 
 Disusun Oleh:
Sofiatur Rizkiyah (1608056005)
Rinni Muthiah (1608056010)
Sari Nurlita (1608056031)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2019
BIOGRAFI PENULIS
Rinni Muthiah lahir di Bandar Jaya pada 02 Juli 1998. Menempuh pendidikan di SD IT Insan Kamil Bandar Jaya, SMP Negeri 3 Terbanggi Besar, MA Negeri 1 Lampung Tengah dan sekarang penulis masih menjadi mahasiswa di UIN Walisongo Semarang jurusan Pendidikan Matematika. Semasa duduk dibangku sekolah penulis adalah siswa berprestasi, terbukti dengan predikat juara yang digapai diantaranya juara 2 LCT Agama, juara 1 olimpiade matematika, juara 1 baca puisi, juara 1 LCT PMR bahkan penulis pernah menjadi delegasi Provinsi Lampung untuk mengikuti ajang kepramukaan nasional di Magelang dan berhasil menjadi terbaik 2 dalam lomba permainan tradisional. Kini prestasinya diteruskan ketika penulis menjadi mahasiswa, terbukti saat Mei 2018 lalu penulis menjadi delegasi kampus untuk mengikuti ajang kepramukaan nasional di Pekan Baru, Riau dan berhasil menjadi Juara 1 Etno terbesar. Selain menjadi mahasiswa saat ini penulis memiliki aktifitas mengajar pramuka di 5 sekolah di Kota Semarang dan tentor les privat matematika dari siswa SD hingga SMA.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Bahasa adalah nyawa dalam setiap media massa, baik media cetak maupun elektronika. Bahasa menunjukkan bangsa, artinya setiap media massa memiliki ragam bahasa yang yang berbeda-beda sesuai dengan khalayak yang ditujunya. Ragam bahasa ini pula yang menjadi identitas setiap media, yang dapat membedakan antara media satu dengan media yang lainnya. Dengan demikian, setiap jurnalis harus memiliki pengetahuan tentang bahasa jurnalistik yang baik dan benar. 
Bahasa jurnalistik adaah laras atau ragam dalam bahasa Indonesia. Meskipun bahasa jurnalistik memiliki sejumlah kekhususan, namum bahasa jurnalistik adaah bahasa Indonesia yang baku, yang harus memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku. Jadi, bahasa jurnalistik Indonesia tetap bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar.
B.     RUMUSAN MASALAH
                           1.     Apa pengertian jurnalistik?
                           2.     Apakah pengertian bahasa jurnalistik?
                           3.     Bagaimana karakteristik bahasa jurnalistik?
C.    TUJUAN
                           1.     Untuk mengetahui pengertian jurnalistik
                           2.     Untuk mengetahui pengertian bahasa jurnalistik
                           3.     Untuk mengetahui karakteristik bahasa jurnalistik


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Jurnalistik
Untuk memahami jurnalistik dapat ditinjau dari tiga sudutpandang yaitu: harfiah(etimologi), konseptual (terminologi), dan praktis. Pertama, jurnalistik secara harfiah (etimologi) artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasarnya jurnal (journal), artinya laporan atau catatan atau jour dalam bahasa Prancis yang berarti hari. Sedangkan menurut bahasa Yunani kuno yakni de jour yang berarti hari/kejadian hari ini yang diberikan dalam lembaran tercetak. Jadi tak heran, jika jurnalistik sering diidentikkan banyak orang dengan hal-hal yang berhubungan dnegan media cetak, terutama surat kabar. Kedua, jurnalistik secara konseptual mengandung tiga pengertian, yaitu sebagai berikut:
                           1.          Jurnalistik adalah proses aktivitas atau kegiatan mencari, mengumpulkan, menyusun, mengolah/menulis, mengedit, menyajikan, dan menyebarluaskan berita kepada khalayak melalui saluran media massa.
                           2.          Jurnalistik adalah keahlian atau keterampilan menulis karya jurnalistik (news, views, dan feature), termasuk keahlian dalam pencarian berita, peliputan peristiwa, dan wawancara.
                           3.          Jurnalistik adalah bagian dari bidang kajian komunikasi/publisistik, khususnya mengenai perbuatan dan penyebarluasan informasi(peristiwa, opini/pendapat, pemikiran, ide/gagasan) melalui media massa. Jurnalistik tergolong ilmu terapan yang sifatnya dinamis dan terus berkembang seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta dinamika masyarakat itu sendiri.
Ketiga, jurnalistik secara praktis adalah proses pembuatan informasi hingga penyebarluasannya melalui media massa, baik melalui media cetak maupun media elektronik.

B.     Pengertian Bahasa Jurnalistik
1.    Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan suatu ungkapan yang mengandung maksud untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang dimaksudkan oleh pembicara bisa dipahami dan dimengerti oleh pendengar atau lawan bicara melalui bahasa yangdiungkapkan.
Chaer dan Agustina (1995:14) fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Hal ini sejalan dengan Soeparno (1993:5) yang menyatakan bahwa fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai tingkah laku sosial (sosial behavior) yang dipakai dalam komunikasi sosial.
Suwarna (2002: 4) bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif sosial. Kridalaksana (dalam Aminuddin, 1985: 28-29) mengartikan bahasa sebagai suatu sistem lambang arbitrer yang menggunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Effendi (1995:15) berpendapat bahwa pengalaman sehari-hari menunjukan bahwa ragam lisan lebih banyak daripada ragam tulis. Lebih lanjut Effendi (1995:78) menyampaikan bahwa ragam lisan berbeda dengan ragam tulis karena peserta percakapan mengucapkan tuturan dengan tekanan, nada, irama, jeda, atau lagu tertentu untuk memperjelas makna dan maksud tuturan. Selain itu kalimat yang digunakan oleh peserta percakapan tidak selalu merupakan kalimat lengkap.
Jeans Aitchison (2008 : 21) “Language is patterned system of arbitrary sound signals, characterized by structure dependence, creativity, displacement, duality, and cultural transmission”, bahasa adalah sistem yang terbentuk dari isyarat suara yang telah disepakati, yang ditandai dengan struktur yang saling tergantung, kreatifitas, penempatan, dualitas dan penyebaran budaya.

2.    Pengertian Bahasa Jurnalistik
Bahasa jurnalistik atau biasa yang disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa. Bahasa jurnalistik memiliki sifat- sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Akan tetapi jangan dilupakan, bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku. Bahasa jurnalistik harus memperhatikan ejaan yang benar. Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasapers. Bahasa jurnalistik memiliki beberapa karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan.  Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis beritautamaataulaporanutama,forumutamaakanberbedadengan bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis tajuk dan features. Dalam menulis banyak factor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Namun demikian sesungguhnya bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam ahasaa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur kata dan wacana. Karena berbagai keterbatasan yang dimilki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalammasyarakat. Adapun beberapa definisi lain dari bahasa jurnalistik adalah sebagaiberikut:
a)    Rosihan Anwar : bahasa jurnalistik adalah yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, jelas, sederhana, lugas dan menarik. Bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosakata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalammasyarakat.
b)   S. Wojowasito : bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsiyangdemikianitubahasatersebutharuslahjelasdanmudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagaian masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikian tuntutan bahwa bahasa jurnalistik harus baik, tidak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik harus sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yangcocok.
c)    JS. Badudu : bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar divbaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Mengingat bahwa orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar. Harus lugas, tetapi jelas agar mudah dipahami. Seseorang tidak mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam suratkabar.
d)   Asep Syamsul M. Romli : bahasa jurnalistik atau language of mass communication, yaitu bahasa yang digunakan wartawan untuk menulis berita di media massa. Sifatnya komunikatif yaitu langsung menjamah materi atau pokok persoalan (straight to the point), tidak berbunga- bunga, dan tanpa basa-basi, serta spesifik yakni harus jelas dan mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan Yang Disempurnakan), dan kalimatnyasingkat-singkat.
C.     Karakteristik Bahasa Jurnalistik
Secara spesifik bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifatyang khas, yakni singkat, padat, sederhana, lugas, menarik,lancar, jelas, jernih, demokratis, dan populis. Ciri-ciri tersebut harus dipenuhi oleh bahasa jurnalistik, bahasa surat kabar, mengingat surat kabar yang dibaca oleh lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya, dari warga masyarakat yang berpendidikan dasar sampai dengan warga yang berpendidikan tinggi. Di samping itu, tidak semua orang harus menghabiskan waktunya hanya unuk membaca surat kabar. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik harus sangat mengutamakan kemampuan untuk bisa menyampaikan semua informasi yang dibawanya kepada pembaca secepatnya. Dengan kata lain, bahasa jurnalistik lebih mengutamakan daya  komunikasinya. Adapun uraian dari masing-masing bahasa jurnalistik:
                       1.     Singkat
Bahasa jurnalistik harus ingkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang pajang-panjang dan bertele-tele. Akan tetapi pesan yang disampaikan tidak boleh bertentangan dengan filosofi, fungsi, dan karakteristik pers.
                       2.     Padat
Bahasa jurnalistik juga harus padat, atinya bahasa jurnalistik yang singkat itu harus sudah mampu menyampaikan informasi yang selengkap-lengkapnya dan sepadat-padatnya. Semua informasi yang diperlukan pembaca harus sudah tertampung di dalamnya. Dalam istilah jurnalistik, artinya ia harus memenuhi syarat 5W + 1H sudah mampu menjawab pertanyaan apa (what), siapa (who), di mana (where), kapan (when), mengapa/apa sebabnya (why), dan bagaimana/ apa akibatnya(how). Bahasa jurnalistik yang padat juga harus menghindari keterangan-keterangan yang tidak perlu, membuang kata-kata yang dianggap mubadzir, dan memegang teguh prinsip ekonomi kata. Penerapannya dalam tulisan yakni mnggunakan kalimat pendek dan menghindarkan sejauh mungkin pemakaian bentuk majemuk. Dalam unsur kata, yakni dengan menghilagkan kata mubadzir dan memilih istilah yang pendek (Anwar: 1979). Efisiensi bahasa harus diperhatikan oleh jurnalis. Ini perlu karena surat kabar harus menghemat halaman. Jurnalis hrus memilih cara pengungkapan pikiran, gagasan, ide, dan obsesi-obsesinya yang tersingkat dengan menghindari kata yang lebih berlebih (Badudu : 1992) 
                       3.     Sederhana
Bahasa jurnalistik yang sederhana, artinya bahasa jurnalistik selalu mengutamakan dan memilih kata yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen. Kata-kata dan kalimat yang rumit dan tabu harus dihindari dalam bahasa jurnalistik. Kalimat yang efektif,  praktis, jurnalistis dengan kalimat yang sederhana dengan pemakaian/pemilihan kata yang secukupnya saja, tidak berlebihan, dan berbunga-bunga(bombastis). Membuang kata yang mubadzir asal tidak mengubah makna informasi tentu tidak dilarang. Tindakan membuang kata yangmubadzir ini merupakan langkah yang efektif dan menimbulkan efisiensi kalimat(Siregar:1987).
                       4.     Lugas
Bahasa jurnalistik harus tegas, artinya bahasa jurnalistik harus tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari pengahalusan kata atau kalimat yang bisa membingungkan khalayak sehingga terjadi perbedaan persepsi.
                       5.     Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik, artinya bahasa jurnalistik selalu memakai kata-kata yang masi hidup, tumbuh, dan berkembang, menghindari kata-kata dan ungkapan klise dan yang sudah mati. Tuntutan menarik inilah yang membuat bahasa jurnalistik harus selalu mengikuti perkembangan bahasa yang hidup ditengah-tengah masyarakat, termasuk istilah-istilah menarik yang baru muncul. Dengan demikian, dalam hal kosakata bahasa jurnalistik memang harus lebih longgar (luwes) dan bahkan dituntut untuk bisa menjadi pelopor pemasyarakatan dan pembakuan kata dan istilah baru yang dapat memperkaya kosakata dan istilah bahasa indonesia. Kemenarikan bahasa jurnalistik dapat menggunakan kata-kata yang masih hidup, baru, dan berkembang dalam masyarakat. Seperti pemakaian kata eksekutif, divisi, mekanisme, organisasi, dan lain-lain. Hal ini juga akan memperkaya kosakata dan perkembangan bahasa Indonesia, sesuai dengan peranan pers sebagai salah satu pembina bahasa Indonesia.
                       6.     Jelas
Bahasa jurnalistik harus jelas, artinya informasi-informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum(pembaca), tidak baur dan kabur. Dengan demikian, struktur kalimatnya harus benar dan tidak menimbulkan penyimpangan/pengertian makna, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda(ambigu), Jelas sasaran atau maksudnya. Oleh karena itu, ditekankan agar bahasa jurnalistik memakai kata-kata yang bermakna denotatif. Selain itu, sejumlah pakar bahasa dan jurnalistik lainnya sepakat bahwa bahasa jurnalistik tetap didasarkan pada bahasa baku serta norma-norma, dankaidah-kaidah bahasa Indonesia.
                       7.     Jernih
Bahasa jurnalistik harus jernih, artinya transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Dalam pendekatan analisis wacana, kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memilki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan selain fakta, kebenaran, kepentingan publik. Dunia jurnalistik tidak diarahkan untuk membenci siapapun, ditakdirkan untuk menunjukkan sekaligus mengingatkan tentang kejujuran, keadilan, kebenaran, kepentinan rakyat. 
                       8.     Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik, artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca. Bahasa jurnalistik memang harus provokatif tetapi tetap merujuk kepada pendekatan dan kaidah normatif dan tidak  semena-mena. Nilai dan nuansa edukatif tetap harus tampak pada bahasa jurnalistik.
                       9.     Demokratis
Bahasa jurnalistik harus demokatis, artinya bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, bahkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Budaya). Secara ideologis bahasa jurnalistik melihat individu memiliki kedudukan yang sama di depan hukum sehingga tidak boleh diberi pandangan serta perlakuan yang berbeda, semuanya sejajar dan sederajat. 
                   10.     Populis
Bahasa jurnalistik harus populis, artinya setiap kata, istilah atau kalimat apapun yang terdapatdalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca, pendengar, aau pemirsa. Bahasa jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan masyarakat. 


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
                       1.     Jurnalistik adalah ilmu, teknik, dan proses yang berkenaan dengan peulisan berita, feature, dan artikel opini di media massa, baik media cetak, media elektronik, maupun media online yang erat dengan dunia kewartawanan.
                       2.     Bahasa jurnaistik adalah ragam bahasa pers yang didasarkan pada bahasa baku dan memperhatikan Ejaan bahasa Indonesia yang benar dan baik.
                       3.     Menurut (Badudu: 1998) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifatyang khas , yakni singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar, jelas, jernih, demokratis, dan populis. Ciri-ciri tersebut harus dipenuhi oleh bahasa jurnalistik, bahasa surat kabar, mengingat surat kabar yang dibaca oleh lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya, dari warga masyarakat yang berpendidikan dasar ampaii dengan warga yang berpendidikan tinggi
B.     Kritik dan Saran
Demikian makalah yang kami buat semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian tentang konsep dan teori belajar.Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah  ini dan kebaikan kedepannya.
Kami selaku penyusun makalah mohon maaf apabila terdapat kesalahan baik kurangnya refrensi materi ataupun dalam hal penulisan makalah. kami hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan jika ada kebenaran semata-mata dari Allah SWT.


DAFTAR PUSTAKA

Aryusmar. 2011. Karakteristik Jurnalistik. Humaniora Vol.2 no 2
Mondry. 2016. Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor: Ghalia Indonesia.
Patmono. 1996. Teknik Jurnalistik. Jakarta: Gunung Mulia. 
Suryawati, Indah. 2014. Jurnalistik Suatu Pengantar: Teori dan Praktik. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sumadiria, Haris. 2016. Bahasa Jurnalistik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Berita - Pesta Siaga

Menulis Berita – SD HJ ISRIATI BAITURRAHMAN 1 KOTA SEMARANG GELAR PESTA SIAGA ** Upacara Pembukaan Pesta Siaga SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Kota Semarang . Semarang – Gugus depan pramuka SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Kota Semarang menggelar kegiatan pesta siaga pada hari Sabtu 26 Oktober 2019 di lingkungan sekolah. Kegiatan Pesta Siaga diikuti oleh seluruh peserta didik kelas 3 (tiga) dan 4 (empat) SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Kota Semarang. Peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa barung dan setiap barung didampingi seorang bunda atau yanda. Dalam kegiatan ini, setiap barungnya akan memasuki setiap taman-taman sesuai yang sudah tertera di kartu kendali yang telah dibagikan kepada setiap pemimpin barung dengan arahan dari bunda atau yanda yang mendampingi. Kegiatan tersebut menghadirkan ketua yayasan Baiturrahman, dewan guru dan staf SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Kota Semarang, Pembina Pramuka, Ketua Kwartir Ranting Semarang Tengah dan stasiun TVRI untuk ...